Widget HTML Atas

Refleksi dari Kegagalan Proyek Energi Bersih di Bali

Bali menjadi perbincangan bagi pemerintah untuk menjadi target pulau energy bersih. Target pemerintah untuk bali mengingatkan kepada monumen kegagalan mega proyek energy bayu dan surya di Nusa Penida.


Kawasan bukit tertinggi sekitar 500 mdpl di Pulau Nusa Penida disebut monument pengingat agar energi bersih jangan jangan menjadi pemanis bibir. Sembilan kicir angina setinggi 30 meter tersebut tidak menghembuskan energi walau masih berdiri tegak menjadi kipas kropos.

Energi yang ditargetkan sekitar 700 KW, sedangkan 9 tenaga bayu (PLTB) diresmikan November 2007 sebulan sebelum konverensi yangdilakukan yaitu konferensi Tingkat Tinggi Perubahan Iklim oleh Preseiden Susilo Bambang Yudhoyono. Lama waktu tersebut dalam penggunaannya sekitar 2 tahun. Setelah itu berhenti total dengan alasan tidak ada suku cadang.

Ini akan menjadi sangat primadona bagi pengunjung, jika PLTB dibangun cukup artistic berpadu dengan perbukitan disekitarnya dan biru nya langit.

 

Regulasi Baru Energi Bersih

Kegagalan hanya menjadi tolak ukur untuk tidak mengulangi kesalahan dan kekurangan dimasa lalu. Momen tersebut menjadi pengingat pemerintahan provinsi bali yang akan merilis dua regulasi untuk mewujudkan pasokan energi bersih pada tahun 2022.

Dari kedua peraturan ini saling berkaitan, Peraturan Gubernur Bali No. 45/2019 tentang Bali Energi Bersih dan Peraturan Gubernur Bali No. 48/2019 tentang penggunaan kendaraan bermotor dengan basis baterai.

Desain atau tata letak bangunan yang dimanfaatkan sinar matahari secara optimal. Dengan hal ini Peraturan Gubernur Bali mengembangkan bangunan hijau dengan menyeimbangkan antara energy yang dihasilkan dengan energy yang digunakan (zero energy building) dengan karakter yang memiliki karakter tropis dan sesuai dengan arsitektur tradisional Bali

 

PLTS (Pembangkit Listrik Tenaga Surya)

Pemanfaatan surya oleh pemerintahan gubernur bali akan dilakukan di atap bangunan dari tahun 2021 hingga  2024. Dengan targetan energy adalah gas 60%, PLTS 5% dengan sisanya EBT lainnya. Kebutuhan optimal bali sekitar 920 MW dan ketersediaannya sekitar 1200 MW jadi masih surplus atau berlenih dengan pasokan sekitar 40% dari Jawa. Hal ini dilakukan oleh Gubernur Bali untuk mengurangi pasokan listrik berbasis Batubara.

Nusa Penida memiliki potensi untuk mengembangkan energy Terbarukan salah satunya biogas. Biogas ini merupakan fermentasi dari kotoran ternak yang ditampung disebuah digester.

Pada 20 Oktober 2020 Nyoman Parta anggota dari DPR di Bali komisi VI pada reses soal enegi menyebutkan khawatirannya Bali krisis listrik karena megaproyek jaringan Jawa-Bali yang baru rampung 2024 sementara energi batu terbarukan (EBT) belum terlihat hasilnya.

Transmisi 500 kV Jawa-Bali Connection disebut akan membawa listrik 1600 MW dari Jawa untuk memperkuat pasokan listrik di Bali. Tetapi proyek itu rampung pada tahun 2024. 

 

Source: Mongabay

Wisata Cibaliung
Wisata Cibaliung Mari Berjalan Mari Bercerita dengan Secangkir Petualangan

No comments for "Refleksi dari Kegagalan Proyek Energi Bersih di Bali"